Agama "Saintifik" dan Sains "Religius" dua jalan mencari kebenaran
Sains “Religius” Agama “Saintifik”
Dua Jalan Mencari Kebenaran
#sainsreligiusagamasaintifik
Saya pribadi melihat sekilas tentang buku ini, merasa sangat tertarik. Karena buku ini dibahas oleh dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Haidar bagir, yang memiliki latar belakang saintis dan filsafat sains, serta Gus Ulil Abshar Abdalla yang memiliki latar belakang agamawan dan filsafat agama, keduanya melakukan kolaborasi untuk mengawinkan dua paradigma keilmuan yang berbeda antara sains dan agama. Namun, kedua orang ini juga memiliki sisi yang sama, dalam hal keterbukaan diantara keduanya untuk mau melakukan “loncatan” dan “menembus” bidangnya masing-masing. Kolaborasi ini yang akan menarik ketika ditampilkan dalam sebuah bacaan yang utuh berjudul: Sains “Religius”, Agama “Saintifik”. Ini adalah sebuah ikhtiyar dalam menemukan hubungan antara agama dan sains, sebagai upaya dalam menemukan kebenaran.
Kajian agama dan sains selalu menarik untuk di bahas, karena diantara keduanya sama-sama bersikukuh bahwa hanya dirinya (masing-masing) yang dapat menemukan hakikat kebenaran. Ini adalah pembahasan yang sangat pelik dan mendalam, karena membahas suatu masalah yang sampai ke akar-akar permasalah, siapa sebenarnya yang mampu menemukan kebenaran, apakah sains? Apakah agama? ataukah keduanya?. Oleh karena itu pembahasan hubungan sains dan agama membutuhkan pisau bedah filsafat yang mendalam diantara keduannya, baik filsafat sains, filsafat agama, maupun integrasi antara filsafat sains dan agama itu sendiri. Dengan sikap keterbukaan dan meninggalkan egonya masing-masing, maka hubungan agama dan sains akan semakin dapat menemukan titik terang.
Lantas, apakah perbedaan sains dan agama? Selama ini, semenjak bendera sains berkibar (sejak renaissance) dengan penuh keangkuhannya, sains mengklaim bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan melalui metodologi yang ditawarkannya. Begitu juga dengan agama, sejak era sebelum sains berkembang merasa bahwa hanya dirinya yang mampu menemukan kebenaran. Pada akhirnya, diantara keduanya seakan-akan terpisah jarak, bahkan saling menyalahkan antara satu dengan yang lainnya. Bagi sains, pendekatan dalam menemukan kebenaran yang dilakukan agama adalah sebuah pendekatan yang salah, sehingga agama hanya dianggap sebagai sebuah pelarian manusia yang tidak mampu menjelaskan kebenaran. Begitu juga bagi agama, menganggap bahwa sampai kapanpun sains tidak akan mampu menemukan sebuah kebenaran, hanya dengan pendekatannya yang sebatas pada sebuah metodologi yang terbatas pada rasio dan empirik saja.
Lantas, apakah semua anggapan ini benar? Sesungguhnya anggapan seperti itu, terjadi hanya karena keangkuhan masing-masing yang tidak ada sikap saling membuka diri. Sains melalui metodologi rasional dan empiriknya terlalu PD (percaya diri), dan begitu juga sebaliknya agama dengan pendekatan wahyu merasa tidak memerlukan sains lagi. Padahal, sebenarnya dalam menemukan kebenaran itu membutuhkan pisau bedah yang sangat banyak, mengingat alam semesta ini begitu luas dengan berbagai macam misteri yang melingkupinya. Alam semesta yang terdiri dari materi dan non materi, tidak mungkin cukup dijelaskan hanya dengan salah satu pendekatan dan metodologi saja, apakah sains ataukah agama. Alam semesta yang begitu luas, tidak mungkin hanya dijelsakan dengan bahasa sains atau bahasa agama saja. Oleh karena itu, perlu keterbukaan diantara keduanya untuk bersama-sama menemukan kebenaran.
Lantas, apakah sains dan agama memiliki kesamaan? Sebenarnya, sains yang metodologinya identik dengan rasio dan empirik, serta agama yang metodolonginya identik dengan wahyu Tuhan, kedua-duanya memiliki persamaan dalam hal subjektifitas dalam mengkajinya. Anggapan bahwa sains itu objektif dan agama itu subjektif adalah sebuah kesalahan besar, karena kedua-duanya memiliki sisi subjektifitas. Seribu ilmuan sains yang membahas satu objek yang sama di sebuah laboratorium, ternyata memiliki kesimpulan yang berbeda-beda. Bahkan, dalam hal metodologi saja tidak semua saintiss sepakat dan satu kata tentang metodologi yang selama ini di dewa-dewakan oleh sains. Paul Karl Feyerabend, yang terkenal dengan pandangannya yang anarkhis tentang sains dan penolokannnya terhadap metodologi sains, menunjukkan subjektifitas sains itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa sains dalam metodologis maupun hasil yang diperolehnya menunjukkan subjektifitas di dalamnya. Begitu juga dengan agama yang selama ini dianggap bersumber dari wahyu ilahi, ternyata juga memiliki subjektifitas ketika masuk dalam tataran penafsiran personal setiap agamawan dalam menangkap wahyu tersebut. Hal ini berarti antara sains dan agama memiliki hal yang sama dalam hal subjektifitas masing-masing. Tidak hanya dalam hal subjektifitas saja, namun dalam hal yang lain antara sains dan agama juga memiliki sisi kesamaan. Proses dalam menemukan kebenaran dari agama maupun sains sama-sama bisa dilakukan dengan proses deduktif dan induktif, sehingga tidak dibenarkan jika sains lebih ke arah induktif dan agama lebih ke arah deduktif, namun kedua-dua nya juga memiliki sisi induktifitas dan deduktifitas. Begitu juga dalam hal rasionalitas, tidak mutlak benar adanya anggapan bahwa sains itu rasional dan agama itu fiksi yang berasal dari khayalan saja, karena sesungguhnya banyak saintis yang memulai penelitiannya dari hipotesa-hipotesa yang bersifat imajinatif.
Lantas, harus bagaimana? Dari adanya realita bahwa terdapat persamaan dan perbedaan antara sains dan agama tersebut, maka bukan sesuatu yang mustahil jika diantara keduanya dilakukan perkawinan sebagai upaya dalam menemukan kebenaran secara bersama. Alam semesta yang begitu luas dengan berbagai misteri yang ada di dalamnya, perlu dipelajari dengan berbagai alat bantu baik agama maupun sains. Bagitu juga, alam semesta yang begitu luas ini memiliki keterkaitan antar satu dan lainnya. Kajian dalam agama tidak akan terlepas dari sains (agama memiliki sisi-sisi saintifiknya) dan begitu juga sebaliknya kajian sains tidak akan lepas dari makna (sains memiliki sisi-sisi religius). Antara sains dan agama hendaknya saling mau membuka diri serta mau “melompat” dan “saling menembus” diantara keduanya. Oleh karena itu, pertemuan diantara keduanya inilah yang dapat dijadikan sebagai ikhtiyar dalam menemukan kebenaran.
Dari sini, maka buku yang berjudul: Sains “Religius” Agama “Saintifik” Dua Jalan Mencari Kebenaran, adalah buku yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai salah satu referensi dalam memahamai hubungan agama dan sains. Buku ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam upaya mengembangkang peradaban baru umat manusia menuju peradaban yang lebih integratif.
Penerbit Mizan Pustaka
Haidar Bagir
Ulil Abshar-Abdalla
Tulungagung, 08 September 2020
Penulis,
Dr. Mohamad Yasin Yusuf
Makasih pak penjelasannya
BalasHapus